{"id":77976,"date":"2026-08-21T08:27:01","date_gmt":"2026-08-21T08:27:01","guid":{"rendered":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/?p=77976"},"modified":"2026-08-21T08:27:01","modified_gmt":"2026-08-21T08:27:01","slug":"kenakalan-remaja-2-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/kenakalan-remaja-2-0\/","title":{"rendered":"Kenakalan Remaja 2.0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenakalan Remaja 2.0 merupakan bentuk kenakalan remaja yang berkembang seiring dengan penggunaan internet, media sosial, dan teknologi digital. Perilaku menyimpang tidak lagi hanya terjadi secara langsung di dunia nyata, tetapi dapat berpindah ke ruang digital, direncanakan melalui teknologi, direkam, disebarluaskan, bahkan dijadikan konten untuk mendapatkan perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa karakteristik utamanya adalah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Digitalisasi Perilaku Menyimpang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kenakalan yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini dapat dilakukan atau difasilitasi melalui media digital. Misalnya, tawuran yang direncanakan melalui grup WhatsApp atau Instagram, kemudian lokasi dan waktu pertemuan disebarkan melalui media sosial.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cyberbullying dan Kekerasan Verbal Digital<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perundungan tidak hanya dilakukan secara tatap muka, tetapi juga melalui komentar, pesan pribadi, grup percakapan, atau unggahan di media sosial. Bentuknya dapat berupa penghinaan, penyebaran foto atau video yang mempermalukan, ancaman, penyebaran rumor, hingga pengucilan seseorang dari kelompok digital.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pamer dan Normalisasi Kekerasan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian remaja dapat menggunakan media sosial untuk menunjukkan keberanian atau status kelompok melalui foto dan video yang menampilkan senjata tajam, kekerasan, ancaman, atau aktivitas berbahaya. Ketika konten tersebut memperoleh banyak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">likes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan komentar, perilaku negatif dapat dianggap sebagai sesuatu yang keren atau membanggakan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengejar Popularitas dan Viralitas<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu karakteristik yang membedakan kenakalan remaja 2.0 adalah adanya dorongan untuk mendapatkan views, likes, followers, dan popularitas. Tindakan yang sebenarnya berbahaya dapat dilakukan atau direkam hanya karena dianggap berpotensi viral.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemanfaatan Teknologi untuk Memfasilitasi Kejahatan di Dunia Nyata<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Teknologi tidak selalu menjadi tempat terjadinya kenakalan, tetapi dapat menjadi alat untuk merencanakan dan mengoordinasikan tindakan di dunia nyata. Misalnya, media sosial digunakan untuk mencari lawan, menentukan lokasi, menyebarkan provokasi, atau mengumpulkan anggota kelompok.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebaran yang Cepat dan Luas<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kenakalan yang terjadi secara langsung biasanya terbatas pada orang-orang yang berada di lokasi. Dalam ruang digital, sebuah foto, video, atau komentar dapat menyebar dalam waktu singkat kepada ribuan bahkan jutaan orang. Akibatnya, dampak dari satu tindakan dapat menjadi jauh lebih besar.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jejak Digital yang Sulit Dihapus<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Foto, video, komentar, dan unggahan yang dibuat saat remaja dapat tersimpan, disalin, atau diunggah kembali oleh orang lain. Karena itu, tindakan yang dilakukan secara spontan dapat memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap reputasi, hubungan sosial, maupun pendidikan seseorang.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Anonimitas dan Jarak Digital<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di dunia maya, seseorang dapat merasa lebih berani karena tidak berhadapan langsung dengan korbannya. Penggunaan akun anonim atau identitas palsu juga dapat membuat sebagian remaja merasa lebih bebas melakukan penghinaan, ancaman, atau provokasi.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh Kelompok dan Tekanan Teman Sebaya secara Digital<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tekanan dari teman tidak lagi berhenti ketika siswa meninggalkan sekolah. Grup percakapan, media sosial, dan komunitas online memungkinkan tekanan tersebut berlangsung 24 jam. Remaja dapat merasa harus mengikuti perilaku kelompok agar tidak dikucilkan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Paparan terhadap Ekosistem Digital Negatif<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Remaja dapat dengan mudah menemukan konten kekerasan, perjudian online, pornografi, ujaran kebencian, atau tantangan berbahaya. Paparan yang terus-menerus dapat membuat perilaku tersebut terlihat normal dan mendorong remaja untuk ikut mencoba.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gamifikasi dan Sensasi Tantangan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa perilaku berisiko dikemas seperti sebuah tantangan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">challenge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) untuk mendapatkan perhatian. Remaja dapat terdorong melakukan tindakan berbahaya karena adanya unsur kompetisi, penghargaan sosial, atau keinginan untuk membuktikan keberanian kepada teman.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Batas Dunia Nyata dan Dunia Digital Semakin Kabur<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kenakalan remaja 2.0 tidak dapat dipisahkan secara tegas antara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">offline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Konflik yang dimulai melalui komentar media sosial dapat berkembang menjadi perkelahian di dunia nyata. Sebaliknya, kejadian di dunia nyata dapat direkam dan kemudian menjadi sumber konflik di dunia nyata.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu. Bagian \u201cCara Menghindari dan Mengatasinya\u201d, khususnya Peran Remaja, bisa dielaborasi agar tidak hanya berupa poin singkat, tetapi menjelaskan mengapa langkah tersebut penting, bagaimana penerapannya, dan contoh konkretnya.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Peran Remaja: Pencegahan Mandiri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Pilah dan Pilih Teman<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Remaja perlu menyadari bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Pertemanan tidak hanya terjadi secara langsung di sekolah atau lingkungan rumah, tetapi juga di media sosial dan grup percakapan. Oleh karena itu, remaja perlu selektif dalam memilih teman dan komunitas digital.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman yang baik bukan berarti teman yang selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi teman yang mampu mengajak pada kegiatan positif, menghargai batasan, dan tidak mendorong seseorang melakukan tindakan berbahaya atau melanggar hukum. Remaja juga perlu berani mengatakan \u201ctidak\u201d ketika diajak tawuran, melakukan bullying, menyebarkan konten negatif, berjudi online, atau melakukan tindakan berisiko lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh:<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jika terdapat grup media sosial yang sering digunakan untuk mengejek sekolah lain, menyebarkan provokasi, atau merencanakan tawuran, remaja sebaiknya tidak ikut berkomentar, keluar dari grup, dan melaporkannya kepada orang dewasa yang dipercaya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Saring Konten yang Dikonsumsi<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang sering dilihat di media sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang sesuatu. Konten kekerasan, perjudian, pornografi, penghinaan, atau perilaku berisiko yang terus-menerus ditonton dapat membuat perilaku tersebut terlihat normal atau bahkan menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, remaja perlu memiliki kemampuan literasi digital, yaitu kemampuan untuk memilih, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Jangan menjadikan jumlah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">likes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">views<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, atau jumlah pengikut sebagai ukuran bahwa suatu konten layak ditiru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Remaja dapat menggunakan fitur unfollow, mute, block, dan report untuk mengurangi paparan terhadap konten negatif. Sebaliknya, ikuti akun yang memberikan informasi pendidikan, olahraga, seni, keterampilan, kewirausahaan, atau pengembangan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prinsip sederhana:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua yang viral layak ditiru, dan tidak semua yang banyak ditonton berarti baik.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Salurkan Energi pada Kegiatan Positif<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa remaja merupakan periode ketika seseorang memiliki energi, rasa ingin tahu, keinginan untuk diakui, dan kebutuhan untuk mendapatkan lingkungan pertemanan. Jika kebutuhan tersebut tidak disalurkan dengan baik, remaja dapat mencari pengakuan melalui perilaku negatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, remaja perlu memiliki ruang aktualisasi diri yang sehat. Kegiatan seperti olahraga, musik, seni, organisasi sekolah, kegiatan keagamaan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">volunteering<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kewirausahaan, maupun komunitas kreatif dapat menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri sekaligus memperluas pertemanan positif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah juga dapat memberikan ruang bagi siswa untuk menghasilkan karya digital yang positif. Misalnya, daripada membuat video tawuran untuk mendapatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">views<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, siswa dapat membuat video kampanye anti-bullying, konten kesehatan mental, kampanye hidup sehat, atau edukasi mengenai penggunaan media sosial yang bertanggung jawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi sumber masalah, tetapi dapat diubah menjadi alat untuk berkarya dan memberikan dampak positif.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Pahami Konsekuensi dari Setiap Tindakan<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu masalah dalam kenakalan remaja 2.0 adalah adanya anggapan bahwa tindakan di dunia maya hanyalah \u201cbercanda\u201d atau tidak memiliki konsekuensi nyata. Padahal, unggahan, komentar, foto, video, maupun percakapan digital dapat meninggalkan jejak digital dan berpotensi menimbulkan konsekuensi sosial, pendidikan, maupun hukum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, remaja perlu membiasakan diri bertanya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah konten ini benar?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah konten ini merugikan orang lain?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah saya memiliki izin untuk membagikannya?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah saya akan tetap merasa nyaman jika konten ini dilihat orang tua atau guru?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah konten ini dapat menimbulkan masalah bagi saya atau orang lain?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah tindakan ini melanggar aturan sekolah atau hukum?<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesadaran terhadap konsekuensi ini penting karena sesuatu yang awalnya dilakukan untuk mendapatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">likes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">views<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat berkembang menjadi konflik, perundungan, pencemaran nama baik, kekerasan, atau persoalan hukum.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Jangan Takut Meminta Bantuan<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pencegahan kenakalan remaja tidak berarti remaja harus menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Ketika menghadapi tekanan dari teman, ancaman, cyberbullying, ajakan tawuran, perjudian online, atau masalah digital lainnya, remaja perlu memiliki keberanian untuk mencari bantuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka dapat berbicara dengan orang tua, wali kelas, guru BK, guru yang dipercaya, atau orang dewasa lain yang dapat membantu. Semakin cepat masalah disampaikan, semakin besar kemungkinan masalah tersebut dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, kemampuan mengenali masalah dan mencari pertolongan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Peran Orang Tua<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua tidak cukup hanya melarang penggunaan gawai. Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun komunikasi terbuka dan kepercayaan dengan anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua dapat:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mendampingi anak memahami risiko media sosial.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membuat kesepakatan mengenai penggunaan gawai dan internet.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengenali perubahan perilaku anak, seperti menjadi sangat tertutup, mudah marah, atau tiba-tiba memiliki lingkungan pertemanan baru yang mencurigakan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak langsung menghakimi ketika anak mengalami masalah digital.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengajarkan etika berkomunikasi di dunia maya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi teladan dalam menggunakan media sosial.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terpenting, orang tua perlu menciptakan suasana sehingga anak merasa aman untuk bercerita ketika mengalami masalah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Peran Sekolah<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah memiliki posisi strategis karena sebagian besar kehidupan sosial remaja berlangsung di lingkungan sekolah. Pencegahan kenakalan remaja 2.0 sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui hukuman, tetapi juga melalui pendidikan, pendampingan, dan pembentukan karakter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah dapat mengembangkan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Program literasi digital dan keamanan digital.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Edukasi mengenai cyberbullying dan konsekuensinya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bimbingan konseling yang responsif terhadap masalah digital.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kampanye anti-kekerasan dan anti-perundungan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan ekstrakurikuler sebagai wadah aktualisasi siswa.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem pelaporan yang aman bagi siswa.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kolaborasi antara guru, BK, wali kelas, orang tua, dan siswa.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pembelajaran yang mengajarkan penggunaan AI dan media sosial secara etis dan bertanggung jawab.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan sekolah sebaiknya tidak hanya bertanya \u201cApa hukuman bagi siswa yang melakukan pelanggaran?\u201d, tetapi juga \u201cMengapa siswa melakukan tindakan tersebut dan bagaimana kita mencegahnya agar tidak terulang?\u201d<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Peran Media Sosial dan Platform Digital<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Platform digital juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi remaja. Sistem pelaporan konten, pembatasan konten berbahaya, perlindungan pengguna usia anak dan remaja, serta pemberantasan akun yang mempromosikan kekerasan atau perjudian merupakan bagian penting dari pencegahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, penanganan kenakalan remaja 2.0 membutuhkan pendekatan bersama. Remaja perlu memiliki kontrol diri dan literasi digital, orang tua perlu memberikan pendampingan, sekolah memberikan pendidikan dan perlindungan, sementara platform digital perlu menciptakan lingkungan yang lebih aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenakalan remaja 2.0 menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara kenakalan dilakukan, disebarkan, dan mendapatkan pengaruh. Karena itu, solusi yang diberikan juga harus berkembang. Remaja tidak cukup hanya diberi nasihat untuk \u201cmenjauhi kenakalan\u201d, tetapi perlu dibekali literasi digital, kemampuan mengambil keputusan, kontrol diri, keberanian menolak tekanan teman sebaya, serta keterampilan menggunakan teknologi untuk kegiatan yang produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan akhirnya bukan menjauhkan remaja dari teknologi, melainkan membentuk remaja yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas, aman, etis, dan bertanggung jawab.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Daftar Pustaka<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Alodokter. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kenakalan remaja: Kenali penyebab, dampak, dan cara menghadapinya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/kenakalan-remaja-kenali-penyebab-dampak-dan-cara-menghadapinya\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.alodokter.com\/kenakalan-remaja-kenali-penyebab-dampak-dan-cara-menghadapinya<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2024). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">BRIN soroti fenomena kenakalan remaja 2.0 yang bermigrasi ke dunia digital<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.brin.go.id\/news\/125636\/brin-soroti-fenomena-kenakalan-remaja-20-yang-bermigrasi-ke-dunia-digital\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.brin.go.id\/news\/125636\/brin-soroti-fenomena-kenakalan-remaja-20-yang-bermigrasi-ke-dunia-digital<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Hello Sehat. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah remaja<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/hellosehat.com\/parenting\/remaja\/tumbuh-kembang-remaja\/masalah-remaja\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/hellosehat.com\/parenting\/remaja\/tumbuh-kembang-remaja\/masalah-remaja\/<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Universitas Siber Asia. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Memahami fenomena kenakalan remaja dan langkah tepat mengatasinya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/unsia.ac.id\/memahami-fenomena-kenakalan-remaja-dan-langkah-tepat-mengatasinya\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/unsia.ac.id\/memahami-fenomena-kenakalan-remaja-dan-langkah-tepat-mengatasinya\/<\/span><\/a>\n<ul>\n<li>source image : https:\/\/www.krajan.id\/cyberbullying-dan-kenakalan-remaja-di-era-digital<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masa remaja merupakan periode ketika seseorang memiliki energi, rasa ingin tahu, keinginan untuk diakui, dan kebutuhan untuk mendapatkan lingkungan pertemanan.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":77977,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[5,523],"tags":[48,524],"class_list":["post-77976","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-literasi","tag-artikel","tag-literasi"],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77976","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77976"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77976\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77978,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77976\/revisions\/77978"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/media\/77977"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77976"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77976"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77976"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}