{"id":78133,"date":"2026-10-26T05:23:22","date_gmt":"2026-10-26T05:23:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/?p=78133"},"modified":"2026-10-26T05:23:22","modified_gmt":"2026-10-26T05:23:22","slug":"pekalongan-climate-ready","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/pekalongan-climate-ready\/","title":{"rendered":"Pekalongan Climate Ready: Peran Gen Z dalam Kesiapsiagaan Bencana akibat Perubahan Iklim"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: right;\">Perubahan iklim bukan lagi persoalan yang hanya dibicarakan oleh para ilmuwan atau aktivis lingkungan. Dampaknya semakin relevan dengan kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Kota dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagai wilayah yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, Pekalongan menghadapi berbagai risiko lingkungan, seperti banjir rob, banjir akibat hujan lebat, cuaca ekstrem, dan gangguan ketersediaan air bersih pada kondisi tertentu.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Generasi Z atau Gen Z, persoalan ini tidak seharusnya hanya menjadi berita yang lewat di media sosial. Bencana dapat mengganggu kegiatan belajar, mobilitas masyarakat, kesehatan, kondisi ekonomi keluarga, bahkan keselamatan jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana perlu menjadi bagian dari pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari generasi muda. Gen Z tidak harus menunggu menjadi ilmuwan, pejabat, atau relawan profesional untuk mengambil peran. Mereka dapat memulai dengan mengenali risiko di lingkungan sekitar, memahami informasi resmi, mengetahui jalur evakuasi, membantu kelompok rentan, dan membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><b>Menjadi generasi yang peduli terhadap iklim bukan hanya berarti mencintai lingkungan, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi diri sendiri serta orang lain ketika bencana terjadi.<\/b><\/p>\n<ol>\n<li><b> Mengenali Risiko Bencana di Pekalongan<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa risiko lingkungan yang perlu dipahami oleh masyarakat Pekalongan.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><b> Banjir rob dan kenaikan muka laut<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banjir rob terjadi ketika air laut menggenangi daratan pesisir, antara lain akibat kondisi pasang air laut. Kenaikan muka laut akibat perubahan iklim dapat meningkatkan risiko banjir pesisir dalam jangka panjang. Di Pekalongan, persoalan ini juga berkaitan dengan penurunan muka tanah, kondisi pesisir, serta pengelolaan air dan tata ruang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampaknya dapat berupa kerusakan rumah, gangguan transportasi, terhambatnya kegiatan sekolah, serta masalah sanitasi dan kesehatan masyarakat.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><b> Banjir akibat hujan lebat<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan genangan atau banjir, terutama ketika kapasitas drainase terbatas atau sungai meluap. Perubahan iklim dapat memengaruhi pola dan intensitas hujan, meskipun tidak semua kejadian banjir disebabkan oleh perubahan iklim semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen Z perlu memahami bahwa banjir rob dan banjir akibat hujan memiliki karakteristik berbeda. Oleh karena itu, informasi yang dipantau dan langkah penanganannya juga perlu disesuaikan dengan situasi.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><b> Kekeringan dan keterbatasan air bersih<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan pola musim dan curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air. Kekeringan atau gangguan pasokan air bersih dapat berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kebersihan, dan kesehatan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghemat air, memperbaiki kebocoran, dan menggunakan air secara bijak merupakan tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh siswa dan keluarga.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><b> Suhu panas dan cuaca ekstrem<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suhu tinggi dapat mengurangi kenyamanan belajar, meningkatkan risiko dehidrasi, dan mengganggu aktivitas di luar ruangan. Sementara itu, hujan lebat dan angin kencang dapat membahayakan perjalanan serta kegiatan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah dan keluarga perlu memperhatikan ketersediaan air minum, tempat berteduh, ventilasi, dan informasi cuaca sebelum melakukan kegiatan di luar ruangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penting dipahami bahwa perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab bencana. Kondisi infrastruktur, penggunaan lahan, penurunan muka tanah, sistem drainase, dan kesiapan masyarakat juga berpengaruh terhadap tingkat risiko dan dampak bencana.<\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><b> Mengapa Gen Z Perlu Terlibat?<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen Z merupakan generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, media sosial, dan akses informasi yang luas. Keunggulan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko bencana. Namun, kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai literasi informasi, kepedulian sosial, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, <\/span><b>bencana dapat mengganggu hak atas pendidikan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Banjir dan cuaca ekstrem dapat menghambat perjalanan ke sekolah, merusak fasilitas belajar, serta mengganggu akses listrik dan internet. Dengan memahami kesiapsiagaan, siswa dapat berperan dalam membangun budaya keselamatan di sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, <\/span><b>informasi yang benar dapat membantu menyelamatkan masyarakat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Ketika bencana terjadi, media sosial sering dipenuhi foto, video, dan pesan yang belum tentu sesuai dengan kondisi terkini. Gen Z dapat menjadi penyebar informasi yang bertanggung jawab dengan memeriksa sumber, tanggal, lokasi, dan instruksi resmi sebelum membagikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, <\/span><b>generasi muda dapat menjadi penggerak perubahan sosial<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Siswa dapat mengajak keluarga dan teman sebaya untuk memahami risiko banjir, mengurangi sampah, menjaga lingkungan, serta mempersiapkan kebutuhan darurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, <\/span><b>kesiapsiagaan membangun ketangguhan masyarakat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Masyarakat yang memahami risiko, mempunyai rencana evakuasi, dan mampu bekerja sama akan lebih siap menghadapi keadaan darurat. Tujuannya bukan menghilangkan semua risiko, melainkan mengurangi kemungkinan cedera, kerugian, dan gangguan kehidupan.<\/span><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><b> What to Do as Gen Z? Lima Langkah Nyata<\/b><\/li>\n<li><b> Kenali Risiko dan Cari Informasi Tepercaya<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah pertama dalam kesiapsiagaan adalah memahami ancaman yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siswa dapat mempelajari apakah rumah, sekolah, dan jalur perjalanan sehari-hari berada di wilayah rawan banjir atau genangan. Informasi tersebut perlu diperoleh dari sumber yang dapat dipercaya, bukan hanya berdasarkan unggahan media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG serta informasi kebencanaan dari BNPB dan BPBD setempat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengenali perbedaan informasi cuaca, pasang air laut, dan instruksi evakuasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memeriksa tanggal serta lokasi foto atau video sebelum membagikannya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen Z dapat memanfaatkan media sosial bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menyebarkan edukasi kebencanaan yang akurat dan mudah dipahami.<\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><b> Siapkan Diri dan Keluarga Sebelum Bencana<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesiapsiagaan tidak dimulai ketika air sudah memasuki rumah. Persiapan sebaiknya dilakukan sejak kondisi masih aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siswa dapat berdiskusi dengan keluarga mengenai tempat berkumpul jika terpisah, jalur menuju tempat aman, serta cara berkomunikasi apabila listrik atau jaringan telepon terganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persiapan yang dapat dilakukan meliputi:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menyiapkan tas siaga berisi air minum, makanan tahan lama, senter, peluit, perlengkapan P3K, obat pribadi, power bank, dan dokumen penting yang terlindungi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menyimpan nomor kontak darurat dan menyepakati cara menghubungi anggota keluarga.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengetahui jalur evakuasi dan lokasi pengungsian resmi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memperhatikan kebutuhan khusus bayi, lansia, penyandang disabilitas, atau anggota keluarga yang sakit.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persiapan sederhana ini dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang ketika situasi darurat terjadi.<\/span><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><b> Bangun Budaya Siaga Bencana di Sekolah<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk membangun kebiasaan kesiapsiagaan karena siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua dapat belajar bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siswa perlu mengetahui apa yang harus dilakukan, ke mana harus bergerak, dan bagaimana mengikuti arahan petugas dalam keadaan darurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang dapat dilakukan antara lain:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul sekolah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memahami prosedur keselamatan ketika terjadi banjir atau cuaca ekstrem.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengikuti simulasi evakuasi yang diselenggarakan sekolah bersama pihak berwenang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melaporkan potensi bahaya, seperti saluran air tersumbat atau jalur evakuasi yang terhalang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengikuti arahan sekolah mengenai perubahan kegiatan atau penghentian aktivitas luar ruangan ketika kondisi tidak aman.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya siaga bencana tidak cukup dibangun melalui poster atau slogan. Pengetahuan perlu disertai latihan, kedisiplinan, dan evaluasi secara berkala.<\/span><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><b> Jadilah Generasi yang Peduli dan Inklusif<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampak bencana tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga yang memiliki keterbatasan sumber daya dapat menghadapi hambatan lebih besar ketika harus menyelamatkan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen Z dapat mengambil peran melalui kepedulian sosial, misalnya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membantu menyampaikan informasi keselamatan kepada keluarga dan tetangga.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memastikan informasi dapat dipahami oleh orang yang membutuhkan bantuan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membantu penggalangan bantuan berdasarkan kebutuhan yang telah dikonfirmasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menghormati privasi korban dan tidak menyebarkan gambar mereka tanpa izin.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengikuti arahan petugas dan tidak melakukan penyelamatan berbahaya tanpa pelatihan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepedulian tidak berarti mempertaruhkan keselamatan diri sendiri. Membantu orang lain harus dilakukan dengan cara yang aman dan sesuai kemampuan.<\/span><\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><b> Lakukan Aksi Ramah Lingkungan untuk Mengurangi Risiko<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesiapsiagaan bencana juga berkaitan dengan upaya mengurangi kerentanan lingkungan dan emisi gas rumah kaca. Tindakan individu tidak dapat menggantikan pembangunan infrastruktur atau kebijakan penanggulangan bencana, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen Z dapat membiasakan diri untuk:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengurangi sampah dan tidak membuangnya ke saluran air.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menghemat energi dan air di sekolah maupun rumah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Merawat pohon dan ruang hijau yang sesuai dengan kondisi lingkungan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mendukung pelestarian mangrove melalui kegiatan yang direncanakan bersama pihak yang kompeten.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengajak teman sebaya menerapkan kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diingat bahwa menanam pohon atau membersihkan sampah saja tidak cukup untuk mengatasi banjir. Upaya lingkungan perlu disertai pengelolaan drainase, tata ruang, perlindungan pesisir, sistem peringatan dini, dan perencanaan bencana yang baik.<\/span><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><b> Apa yang Harus Dilakukan Ketika Banjir Terjadi?<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengetahuan tentang perubahan iklim harus disertai pemahaman mengenai tindakan keselamatan yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><b>Sebelum banjir:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Pantau peringatan resmi, siapkan kebutuhan darurat, lindungi dokumen penting, dan sepakati rencana evakuasi bersama keluarga.<\/span><\/p>\n<p><b>Saat banjir mengancam:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Segera menuju tempat aman sesuai arahan petugas. Jangan menerobos arus banjir atau melewati jalan yang tergenang dengan kedalaman yang tidak diketahui. Hindari kabel listrik dan peralatan yang terendam. Jangan mengambil risiko hanya demi menyelamatkan barang atau merekam konten.<\/span><\/p>\n<p><b>Setelah banjir:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Kembali ke rumah hanya ketika kondisi dinyatakan aman. Hindari air yang mungkin terkontaminasi dan gunakan air bersih untuk minum. Jangan menyalakan peralatan listrik yang basah sebelum diperiksa oleh pihak yang kompeten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam keadaan darurat, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Informasi dari petugas berwenang perlu diutamakan dibandingkan kabar yang belum terverifikasi di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><b>Penutup: Gen Z Bukan Sekadar Penonton Perubahan Iklim<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesiapsiagaan bencana merupakan keterampilan hidup yang penting bagi generasi muda, khususnya mereka yang tinggal di wilayah yang menghadapi risiko banjir dan perubahan lingkungan. Pekalongan dapat menjadi pengingat bahwa perubahan iklim, kondisi wilayah pesisir, perilaku manusia, dan ketangguhan masyarakat saling berkaitan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gen Z memiliki kesempatan untuk memadukan teknologi, kreativitas, kepedulian sosial, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan tersebut. Namun, upaya generasi muda perlu didukung oleh keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan tenaga profesional agar menghasilkan perubahan yang aman dan berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><b>Jangan menunggu bencana untuk belajar bersiap. Kenali risikonya, siapkan diri, sebarkan informasi yang benar, dan lakukan tindakan nyata untuk melindungi komunitas.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Generasi yang siap menghadapi perubahan iklim adalah generasi yang memahami risiko, mempersiapkan diri, dan peduli terhadap keselamatan sesama.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Daftar Pustaka<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Informasi cuaca dan iklim<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.bmkg.go.id\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.bmkg.go.id\/<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Badan Nasional Penanggulangan Bencana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.bnpb.go.id\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.bnpb.go.id\/<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Climate change 2023: Synthesis report<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.ipcc.ch\/report\/ar6\/syr\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.ipcc.ch\/report\/ar6\/syr\/<\/span><\/a><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">United Nations Office for Disaster Risk Reduction. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">United Nations Office for Disaster Risk Reduction<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.undrr.org\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.undrr.org\/<\/span><\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan iklim bukan lagi persoalan yang hanya dibicarakan oleh para ilmuwan atau aktivis lingkungan. Dampaknya semakin relevan dengan kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Kota dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagai wilayah yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, Pekalongan menghadapi berbagai risiko lingkungan, seperti banjir rob, banjir akibat hujan lebat, cuaca ekstrem, dan gangguan ketersediaan air [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":78134,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[523],"tags":[524],"class_list":["post-78133","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-literasi","tag-literasi"],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78133"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78133\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78140,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78133\/revisions\/78140"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.sman1pekalongan.sch.id\/v3\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}