Alfin Dwi Novemyanto: Anak Pemulung yang Mengubah Keterbatasan Menjadi Prestasi Jurnalistik SMANSA 6 September 2026

Alfin Dwi Novemyanto: Anak Pemulung yang Mengubah Keterbatasan Menjadi Prestasi

Di balik keberhasilan seorang anak, sering kali ada perjuangan orang tua yang tidak terlihat. Kisah itu tergambar dalam perjalanan hidup Alfin Dwi Novemyanto, pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, yang berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menghentikan mimpi.

Alfin lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan dibesarkan oleh ibunya sebagai orang tua tunggal. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan ketiga anaknya, sang ibu bekerja sebagai pemulung yang setiap hari mengumpulkan barang-barang bekas atau rongsokan untuk dijual.

Kehidupan keluarga Alfin tidaklah mudah. Ketika masih kuliah, ia dan keluarganya bahkan beberapa kali harus berpindah tempat tinggal karena rongsokan yang dikumpulkan sang ibu dianggap mengganggu lingkungan sekitar. Mereka pernah tinggal di indekos sederhana, bahkan sang ibu sempat membangun gubuk di pinggir rel sebelum akhirnya harus pindah kembali karena digusur. Kondisi tersebut membuat Alfin sejak kecil terbiasa melihat dan merasakan langsung perjuangan ibunya.

Sang ibu bekerja dengan sangat keras. Ia mulai mencari barang bekas sejak sekitar pukul satu dini hari hingga pagi, kemudian memilah dan mengolah hasil rongsokan sampai sore hari. Alfin dan saudara-saudaranya pun tidak tinggal diam. Mereka turut membantu, terutama dalam memilah barang-barang yang dikumpulkan ibunya. Bagi Alfin, pekerjaan ibunya bukan sesuatu yang memalukan. Justru, perjuangan sang ibu menjadi sumber kekuatan dan motivasi terbesar dalam hidupnya.

Mimpi yang Hampir Terhenti karena Ekonomi

Setelah lulus SMA, Alfin sempat bekerja selama satu tahun. Pada saat itu, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi sebenarnya sangat besar, tetapi kondisi ekonomi keluarga membuat kuliah terasa seperti sesuatu yang sulit dijangkau.

Pada tahun 2018, seorang gurunya melihat potensi Alfin dan mempertanyakan mengapa ia tidak melanjutkan kuliah. Sang guru kemudian memberinya informasi mengenai kesempatan mendapatkan beasiswa Bidikmisi di Universitas Terbuka. Kesempatan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan pendidikannya.

Alfin akhirnya diterima di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Terbuka. Karena memperoleh bantuan pendidikan, ia dapat menjalani kuliah tanpa membebani kondisi ekonomi keluarganya. Ia bahkan memilih Universitas Terbuka karena memungkinkan dirinya untuk tetap bekerja sambil kuliah.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Selama menjadi mahasiswa, Alfin aktif mengikuti berbagai kegiatan, perlombaan, dan organisasi. Ia berhasil menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Terbuka dan menjadi finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-33. Ia juga memperoleh berbagai dukungan beasiswa, termasuk beasiswa dari IKA UT dan program lainnya. Perjuangannya membuahkan hasil. Alfin berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Hukum di Universitas Terbuka dengan IPK 3,98 dan predikat lulusan terbaik.

Dari Seminar Beasiswa hingga LPDP

Impian Alfin untuk melanjutkan pendidikan tidak berhenti setelah mendapatkan gelar sarjana. Ketika masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Terbuka, ia pernah menjadi delegasi kampus dalam sebuah kegiatan nasional di Universitas Gadjah Mada. Dalam kegiatan tersebut, ia mengikuti seminar mengenai beasiswa dan untuk pertama kalinya mendapatkan informasi lebih jauh mengenai beasiswa LPDP.

Setelah lulus S1, kesempatan untuk mendaftar LPDP akhirnya datang. Namun, perjalanan menuju beasiswa tersebut juga tidak mudah. Kondisi ekonomi membuat Alfin sempat ragu untuk mendaftar karena harus menyiapkan berbagai dokumen administrasi.

Beruntung, ada orang baik yang membantu biaya pengurusan berkas pendaftaran. Alfin kemudian berusaha menyelesaikan seluruh tahapan seleksi meskipun waktunya sangat terbatas. Ia mengisi biodata hanya beberapa hari sebelum batas akhir, mengikuti TOEFL dua hari sebelum pendaftaran ditutup, bahkan menyelesaikan esai hanya satu hari sebelum tenggat.

Ia juga menghadapi tantangan lain. Alfin tidak memiliki bimbingan khusus dalam menyusun esai maupun persiapan wawancara. Bahkan, menjelang tes substansi wawancara, akun Instagram yang telah lama ia bangun tiba-tiba terkena masalah sehingga membuatnya semakin tertekan. Namun, Alfin memilih untuk tetap berusaha.

Hasilnya, perjuangan tersebut membuahkan kabar menggembirakan. Ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan magister bidang hukum. Ia memiliki pilihan universitas, antara lain Universitas Sebelas Maret, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Airlangga. Pada akhirnya, Alfin memilih melanjutkan pendidikan di Magister Hukum Kenegaraan, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Momen Haru Bersama Sang Ibu

Salah satu bagian paling mengharukan dari perjalanan Alfin terjadi ketika ia menerima pengumuman kelulusan beasiswa LPDP.Karena tempat tinggal Alfin dan ibunya berbeda, ia tidak langsung memberi tahu sang ibu. Ibunya sehari-hari tinggal di tempat sederhana untuk menjaga, mengumpulkan, dan mengelola hasil rongsokan yang diperolehnya. Keesokan paginya, Alfin menghampiri ibunya ketika sang ibu sedang menurunkan hasil rongsokan. Dengan penuh haru, ia menunjukkan pengumuman bahwa dirinya berhasil mendapatkan beasiswa S2 dari LPDP. Sang ibu tercengang dan tidak mampu menahan tangis.

Bagi Alfin, keberhasilan tersebut bukan hanya keberhasilan dirinya. Itu adalah hadiah untuk seorang ibu yang selama bertahun-tahun bekerja keras sebagai pemulung demi memberikan kehidupan dan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Tidak Berhenti pada Pendidikan

Bagi Alfin, pendidikan bukan sekadar cara untuk mendapatkan gelar. Ia ingin menggunakan ilmu yang diperolehnya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Ia bercita-cita menjadi pendidik dan pemberdaya masyarakat, khususnya melalui bidang hukum. Menurutnya, ilmu hukum dapat digunakan untuk membantu masyarakat memperoleh kepastian, keadilan, dan kebermanfaatan. Ia percaya bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mengubah kehidupan seseorang sekaligus mengangkat derajat keluarga.

Semangat tersebut juga terlihat dari berbagai aktivitas dan prestasi yang diraihnya. Perjalanan Alfin dari mahasiswa Universitas Terbuka hingga menjadi mahasiswa pascasarjana UGM menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi batas bagi seseorang untuk berkembang.

Penghargaan dari Kemenpora

Perjuangan dan kontribusi Alfin kemudian mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96, 28 Oktober 2024, Alfin menerima penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI sebagai Pemuda Berprestasi dan Inspiratif Tahun 2024. Penghargaan tersebut diberikan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Nama Alfin tercatat secara resmi dalam daftar penerima penghargaan Pemuda Berprestasi dan Inspiratif Kemenpora.

Saat menerima penghargaan tersebut, Alfin tidak mampu menahan air mata. Ia mengaku tidak pernah menyangka perjalanan hidupnya yang penuh keterbatasan akhirnya membawanya sampai pada titik tersebut. Baginya, penghargaan itu bukan hanya tentang prestasi pribadi. Ia mendedikasikannya untuk sang ibu yang telah berjuang tanpa kenal lelah.

Pesan Alfin untuk Generasi Muda

Kisah Alfin memberikan sebuah pesan sederhana tetapi kuat: keadaan ekonomi boleh menjadi tantangan, tetapi tidak seharusnya membunuh sebuah mimpi. Ia mengajak anak-anak muda untuk tidak menyerah hanya karena berasal dari keluarga sederhana. Menurut Alfin, seseorang tidak harus menunggu memiliki kehidupan yang sempurna untuk mulai berjuang.

Pendidikan, kerja keras, kesempatan, dan keberanian untuk mencoba dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan. Perjalanan Alfin adalah bukti bahwa seorang anak pemulung pun dapat menjadi mahasiswa berprestasi, lulusan terbaik, penerima beasiswa LPDP, mahasiswa pascasarjana UGM, dan akhirnya mendapatkan penghargaan sebagai Pemuda Berprestasi dan Inspiratif dari Kemenpora.

Lebih dari sekadar kisah tentang keberhasilan seorang pemuda, perjalanan Alfin adalah kisah tentang seorang ibu yang tidak pernah menyerah menyekolahkan anak-anaknya dan seorang anak yang bertekad mengubah pengorbanan ibunya menjadi prestasi dan kebermanfaatan bagi orang lain.

Seperti pesan yang disampaikan Alfin, jangan membunuh mimpi hanya karena keadaan ekonomi. Siapa pun bisa menjadi apa pun ketika berani bermimpi, mau melangkah, dan terus berjuang.

 

Daftar Pustaka

 

Write a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to Top