Pernah merasa tertinggal ketika melihat teman-teman mengunggah foto nongkrong di kafe, membeli barang yang sedang viral, atau mengikuti tren terbaru di media sosial? Pernah merasa harus ikut melakukan sesuatu hanya karena hampir semua orang melakukannya?
Jika pernah, kamu mungkin sedang mengalami FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau kegiatan yang sedang dinikmati orang lain.
Di era digital, FOMO menjadi bagian dari kehidupan banyak remaja. Media sosial membuat kita dapat melihat aktivitas orang lain setiap saat. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita merasa harus selalu tahu tren terbaru, mengikuti percakapan yang sedang ramai, bahkan membeli sesuatu agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Namun, apakah semua hal memang harus kita ikuti? Apakah FOMO selalu buruk? Jawabannya tidak sesederhana itu.
- FOMO yang Tidak Perlu: Ketika Kita Mengikuti Orang Lain Tanpa Alasan
Bayangkan kamu melihat teman-teman membeli sepatu yang sedang viral. Awalnya, kamu tidak terlalu tertarik. Namun, setelah melihat banyak orang memakainya, kamu mulai merasa sepatu milikmu sudah tidak keren lagi. Akhirnya, kamu ingin membelinya juga, meskipun sepatu lamamu masih bagus dan uangmu sebenarnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain.
Contoh lainnya adalah merasa harus datang ke setiap acara kumpul-kumpul, mengikuti semua tren TikTok, membeli makanan yang sedang populer, atau selalu mengunggah aktivitas agar terlihat memiliki kehidupan yang menarik.
Inilah FOMO yang tidak perlu: ketika keputusan kita lebih banyak didorong oleh rasa takut tertinggal daripada kebutuhan, minat, atau nilai yang kita yakini.
FOMO seperti ini dapat membuat kita boros, sulit merasa puas, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Kita mungkin mendapatkan kesenangan sesaat setelah mengikuti tren, tetapi kemudian muncul tren baru yang membuat kita merasa tertinggal lagi.
Padahal, tidak semua yang viral itu penting. Tidak semua yang dimiliki teman harus kita miliki. Dan tidak semua pengalaman menyenangkan orang lain harus menjadi pengalaman kita juga.
Kita tidak harus hadir di setiap tempat, membeli setiap barang, atau mengikuti setiap tren untuk menjadi seseorang yang berharga.
- FOMO yang Perlu: Ketika Rasa Takut Tertinggal Mendorong Kita Bertumbuh
Sekarang, mari melihat sisi lainnya.
Bagaimana jika teman-temanmu mengikuti lomba debat, belajar keterampilan baru, mengikuti kegiatan sukarelawan, atau mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi? Kamu melihat mereka berkembang, sementara kamu mulai menyadari bahwa kamu juga ingin memiliki kemampuan dan pengalaman serupa.
Perasaan takut tertinggal dalam situasi ini bisa menjadi pengingat untuk bergerak. Kamu terdorong untuk belajar lebih giat, mencoba hal baru, memperluas pergaulan yang positif, atau mulai mempersiapkan masa depan.
Inilah FOMO yang dapat dimanfaatkan secara positif. Meskipun istilah yang lebih tepat mungkin adalah positive social motivation, intinya adalah menjadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri.
Misalnya, kamu melihat teman lancar berbicara bahasa Inggris. Alih-alih merasa iri atau menganggap diri tidak mampu, kamu mulai berlatih berbicara selama 15 menit setiap hari. Kamu tidak harus mengalahkan temanmu. Kamu hanya perlu menjadi lebih baik daripada dirimu yang kemarin.
Begitu pula ketika kamu melihat teman aktif dalam kegiatan sosial atau berhasil mengelola waktunya dengan baik. Kamu dapat mengambil pelajaran dari mereka dan menyesuaikannya dengan tujuanmu sendiri.
Namun, ada satu hal penting: mengikuti kegiatan yang bermanfaat tidak berarti kamu harus mengorbankan kesehatan, waktu istirahat, atau kemampuan finansial demi mengejar orang lain.
Bahkan FOMO yang tampaknya positif tetap perlu dikendalikan jika membuat kita terus merasa tidak cukup baik.
- Bagaimana Membedakan FOMO yang Perlu dan Tidak Perlu?
Sebelum mengikuti tren, membeli sesuatu, atau memutuskan ikut suatu kegiatan, cobalah mengajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri.
Pertama, apakah aku benar-benar menginginkannya?
Apakah kamu tertarik karena kegiatan tersebut sesuai dengan minatmu, atau hanya karena takut dianggap tidak gaul? Jika tidak ada orang lain yang melakukannya, apakah kamu masih tertarik?
Kedua, apakah ini bermanfaat bagi diriku?
Manfaat tidak selalu berarti menghasilkan uang atau prestasi. Bertemu teman, mencoba hobi baru, dan menikmati pengalaman juga bisa bermanfaat. Namun, pertimbangkan apakah manfaatnya sepadan dengan waktu, tenaga, dan biaya yang harus dikeluarkan.
Ketiga, apakah keputusan ini sesuai dengan prioritas dan kemampuanku?
Kamu boleh ingin mengikuti konser, membeli barang baru, atau bergabung dalam berbagai kegiatan. Namun, kamu juga perlu mempertimbangkan anggaran, tugas sekolah, kesehatan, dan kebutuhan istirahat.
Jika jawabannya menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memang kamu inginkan, bermanfaat, dan sesuai dengan prioritasmu, kamu bisa mempertimbangkannya. Jika tidak, melewatkannya bukanlah sebuah kegagalan.
- Kamu Tidak Harus Mengalami Semuanya
Ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan di dunia ini. Ada tempat yang belum kamu kunjungi, buku yang belum kamu baca, keterampilan yang belum kamu kuasai, dan pengalaman yang belum pernah kamu rasakan.
Itu wajar. Tidak ada manusia yang dapat mengalami semuanya.
Media sosial sering kali membuat kita melihat begitu banyak potongan kehidupan orang lain hingga lupa bahwa kita pun sedang menjalani kehidupan sendiri. Kita sibuk melihat apa yang dilakukan orang lain, tetapi lupa bertanya apa yang sebenarnya ingin kita lakukan.
Kamu boleh menikmati tren yang sedang populer. Kamu boleh mengikuti kegiatan teman-temanmu. Kamu juga boleh mencoba hal baru karena terinspirasi oleh orang lain. Namun, kamu tidak harus melakukannya hanya untuk membuktikan bahwa kamu tidak tertinggal.
Ada kalanya keputusan terbaik adalah ikut bergabung. Ada kalanya keputusan terbaik justru mengatakan, “Tidak apa-apa, kali ini aku tidak ikut.”
Keduanya sama-sama valid selama kamu memilih dengan sadar.
Penutup: Jangan Sampai Takut Tertinggal Membuatmu Kehilangan Arah
Jadi, apakah FOMO penting atau tidak penting?
FOMO bukan sesuatu yang selalu harus dihindari, tetapi juga bukan sesuatu yang harus selalu dituruti. Rasa takut tertinggal dapat membantu kita menyadari peluang dan mendorong diri untuk berkembang. Sebaliknya, jika tidak dikendalikan, perasaan itu dapat membuat kita mengikuti orang lain tanpa memahami kebutuhan sendiri.
Kuncinya bukan mengetahui semua tren atau mengikuti semua kegiatan. Kuncinya adalah mengetahui mana yang layak mendapatkan perhatian kita.
Ingatlah bahwa setiap orang memiliki waktu, kemampuan, kondisi, dan jalannya masing-masing. Temanmu mungkin sedang menikmati pencapaiannya hari ini, sementara kamu sedang membangun sesuatu yang belum terlihat hasilnya.
Kamu tidak harus berlari ke arah yang sama hanya karena semua orang sedang berlari.
Jangan takut tertinggal dari tren. Takutlah jika karena terus mengikuti orang lain, kamu justru kehilangan kesempatan untuk mengenali dirimu sendiri.
Maam, artikel ini cocok ditutup dengan pertanyaan reflektif untuk pembaca remaja: “If nobody could see what I do, would I still want to do it?” — Jika tidak ada orang yang bisa melihat apa yang kulakukan, apakah aku tetap ingin melakukannya?
Pertanyaan sederhana ini bisa membantu siswa membedakan keinginan yang benar-benar berasal dari diri sendiri dengan keinginan yang muncul karena tekanan sosial.
Daftar Pustaka
- Akbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. https://www.apa.org/topics/social-media-internet/health-advisory-adolescent-social-media-use
- Fioravanti, G., Casale, S., Benucci, S. B., Prostamo, A., & Falone, A. (2024). The relationship between fear of missing out, digital technology use, and psychological well-being: A scoping review of conceptual and empirical issues. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11452005/
- Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014