Perubahan iklim bukan lagi persoalan yang hanya dibicarakan oleh para ilmuwan atau aktivis lingkungan. Dampaknya semakin relevan dengan kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Kota dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagai wilayah yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, Pekalongan menghadapi berbagai risiko lingkungan, seperti banjir rob, banjir akibat hujan lebat, cuaca ekstrem, dan gangguan ketersediaan air bersih pada kondisi tertentu.
Bagi Generasi Z atau Gen Z, persoalan ini tidak seharusnya hanya menjadi berita yang lewat di media sosial. Bencana dapat mengganggu kegiatan belajar, mobilitas masyarakat, kesehatan, kondisi ekonomi keluarga, bahkan keselamatan jiwa.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana perlu menjadi bagian dari pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari generasi muda. Gen Z tidak harus menunggu menjadi ilmuwan, pejabat, atau relawan profesional untuk mengambil peran. Mereka dapat memulai dengan mengenali risiko di lingkungan sekitar, memahami informasi resmi, mengetahui jalur evakuasi, membantu kelompok rentan, dan membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Menjadi generasi yang peduli terhadap iklim bukan hanya berarti mencintai lingkungan, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi diri sendiri serta orang lain ketika bencana terjadi.
- Mengenali Risiko Bencana di Pekalongan
Ada beberapa risiko lingkungan yang perlu dipahami oleh masyarakat Pekalongan.
- Banjir rob dan kenaikan muka laut
Banjir rob terjadi ketika air laut menggenangi daratan pesisir, antara lain akibat kondisi pasang air laut. Kenaikan muka laut akibat perubahan iklim dapat meningkatkan risiko banjir pesisir dalam jangka panjang. Di Pekalongan, persoalan ini juga berkaitan dengan penurunan muka tanah, kondisi pesisir, serta pengelolaan air dan tata ruang.
Dampaknya dapat berupa kerusakan rumah, gangguan transportasi, terhambatnya kegiatan sekolah, serta masalah sanitasi dan kesehatan masyarakat.
- Banjir akibat hujan lebat
Hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan genangan atau banjir, terutama ketika kapasitas drainase terbatas atau sungai meluap. Perubahan iklim dapat memengaruhi pola dan intensitas hujan, meskipun tidak semua kejadian banjir disebabkan oleh perubahan iklim semata.
Gen Z perlu memahami bahwa banjir rob dan banjir akibat hujan memiliki karakteristik berbeda. Oleh karena itu, informasi yang dipantau dan langkah penanganannya juga perlu disesuaikan dengan situasi.
- Kekeringan dan keterbatasan air bersih
Perubahan pola musim dan curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air. Kekeringan atau gangguan pasokan air bersih dapat berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kebersihan, dan kesehatan masyarakat.
Menghemat air, memperbaiki kebocoran, dan menggunakan air secara bijak merupakan tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh siswa dan keluarga.
- Suhu panas dan cuaca ekstrem
Suhu tinggi dapat mengurangi kenyamanan belajar, meningkatkan risiko dehidrasi, dan mengganggu aktivitas di luar ruangan. Sementara itu, hujan lebat dan angin kencang dapat membahayakan perjalanan serta kegiatan masyarakat.
Sekolah dan keluarga perlu memperhatikan ketersediaan air minum, tempat berteduh, ventilasi, dan informasi cuaca sebelum melakukan kegiatan di luar ruangan.
Penting dipahami bahwa perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab bencana. Kondisi infrastruktur, penggunaan lahan, penurunan muka tanah, sistem drainase, dan kesiapan masyarakat juga berpengaruh terhadap tingkat risiko dan dampak bencana.
- Mengapa Gen Z Perlu Terlibat?
Gen Z merupakan generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, media sosial, dan akses informasi yang luas. Keunggulan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko bencana. Namun, kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai literasi informasi, kepedulian sosial, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat.
Pertama, bencana dapat mengganggu hak atas pendidikan. Banjir dan cuaca ekstrem dapat menghambat perjalanan ke sekolah, merusak fasilitas belajar, serta mengganggu akses listrik dan internet. Dengan memahami kesiapsiagaan, siswa dapat berperan dalam membangun budaya keselamatan di sekolah.
Kedua, informasi yang benar dapat membantu menyelamatkan masyarakat. Ketika bencana terjadi, media sosial sering dipenuhi foto, video, dan pesan yang belum tentu sesuai dengan kondisi terkini. Gen Z dapat menjadi penyebar informasi yang bertanggung jawab dengan memeriksa sumber, tanggal, lokasi, dan instruksi resmi sebelum membagikannya.
Ketiga, generasi muda dapat menjadi penggerak perubahan sosial. Siswa dapat mengajak keluarga dan teman sebaya untuk memahami risiko banjir, mengurangi sampah, menjaga lingkungan, serta mempersiapkan kebutuhan darurat.
Keempat, kesiapsiagaan membangun ketangguhan masyarakat. Masyarakat yang memahami risiko, mempunyai rencana evakuasi, dan mampu bekerja sama akan lebih siap menghadapi keadaan darurat. Tujuannya bukan menghilangkan semua risiko, melainkan mengurangi kemungkinan cedera, kerugian, dan gangguan kehidupan.
- What to Do as Gen Z? Lima Langkah Nyata
- Kenali Risiko dan Cari Informasi Tepercaya
Langkah pertama dalam kesiapsiagaan adalah memahami ancaman yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar.
Siswa dapat mempelajari apakah rumah, sekolah, dan jalur perjalanan sehari-hari berada di wilayah rawan banjir atau genangan. Informasi tersebut perlu diperoleh dari sumber yang dapat dipercaya, bukan hanya berdasarkan unggahan media sosial.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
- Memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG serta informasi kebencanaan dari BNPB dan BPBD setempat.
- Mengenali perbedaan informasi cuaca, pasang air laut, dan instruksi evakuasi.
- Memeriksa tanggal serta lokasi foto atau video sebelum membagikannya.
- Tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Gen Z dapat memanfaatkan media sosial bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menyebarkan edukasi kebencanaan yang akurat dan mudah dipahami.
- Siapkan Diri dan Keluarga Sebelum Bencana
Kesiapsiagaan tidak dimulai ketika air sudah memasuki rumah. Persiapan sebaiknya dilakukan sejak kondisi masih aman.
Siswa dapat berdiskusi dengan keluarga mengenai tempat berkumpul jika terpisah, jalur menuju tempat aman, serta cara berkomunikasi apabila listrik atau jaringan telepon terganggu.
Persiapan yang dapat dilakukan meliputi:
- Menyiapkan tas siaga berisi air minum, makanan tahan lama, senter, peluit, perlengkapan P3K, obat pribadi, power bank, dan dokumen penting yang terlindungi.
- Menyimpan nomor kontak darurat dan menyepakati cara menghubungi anggota keluarga.
- Mengetahui jalur evakuasi dan lokasi pengungsian resmi.
- Memperhatikan kebutuhan khusus bayi, lansia, penyandang disabilitas, atau anggota keluarga yang sakit.
Persiapan sederhana ini dapat membantu keluarga mengambil keputusan dengan lebih tenang ketika situasi darurat terjadi.
- Bangun Budaya Siaga Bencana di Sekolah
Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk membangun kebiasaan kesiapsiagaan karena siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua dapat belajar bersama.
Siswa perlu mengetahui apa yang harus dilakukan, ke mana harus bergerak, dan bagaimana mengikuti arahan petugas dalam keadaan darurat.
Hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul sekolah.
- Memahami prosedur keselamatan ketika terjadi banjir atau cuaca ekstrem.
- Mengikuti simulasi evakuasi yang diselenggarakan sekolah bersama pihak berwenang.
- Melaporkan potensi bahaya, seperti saluran air tersumbat atau jalur evakuasi yang terhalang.
- Mengikuti arahan sekolah mengenai perubahan kegiatan atau penghentian aktivitas luar ruangan ketika kondisi tidak aman.
Budaya siaga bencana tidak cukup dibangun melalui poster atau slogan. Pengetahuan perlu disertai latihan, kedisiplinan, dan evaluasi secara berkala.
- Jadilah Generasi yang Peduli dan Inklusif
Dampak bencana tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga yang memiliki keterbatasan sumber daya dapat menghadapi hambatan lebih besar ketika harus menyelamatkan diri.
Gen Z dapat mengambil peran melalui kepedulian sosial, misalnya:
- Membantu menyampaikan informasi keselamatan kepada keluarga dan tetangga.
- Memastikan informasi dapat dipahami oleh orang yang membutuhkan bantuan.
- Membantu penggalangan bantuan berdasarkan kebutuhan yang telah dikonfirmasi.
- Menghormati privasi korban dan tidak menyebarkan gambar mereka tanpa izin.
- Mengikuti arahan petugas dan tidak melakukan penyelamatan berbahaya tanpa pelatihan.
Kepedulian tidak berarti mempertaruhkan keselamatan diri sendiri. Membantu orang lain harus dilakukan dengan cara yang aman dan sesuai kemampuan.
- Lakukan Aksi Ramah Lingkungan untuk Mengurangi Risiko
Kesiapsiagaan bencana juga berkaitan dengan upaya mengurangi kerentanan lingkungan dan emisi gas rumah kaca. Tindakan individu tidak dapat menggantikan pembangunan infrastruktur atau kebijakan penanggulangan bencana, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya bersama.
Gen Z dapat membiasakan diri untuk:
- Mengurangi sampah dan tidak membuangnya ke saluran air.
- Menghemat energi dan air di sekolah maupun rumah.
- Merawat pohon dan ruang hijau yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
- Mendukung pelestarian mangrove melalui kegiatan yang direncanakan bersama pihak yang kompeten.
- Mengajak teman sebaya menerapkan kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Perlu diingat bahwa menanam pohon atau membersihkan sampah saja tidak cukup untuk mengatasi banjir. Upaya lingkungan perlu disertai pengelolaan drainase, tata ruang, perlindungan pesisir, sistem peringatan dini, dan perencanaan bencana yang baik.
- Apa yang Harus Dilakukan Ketika Banjir Terjadi?
Pengetahuan tentang perubahan iklim harus disertai pemahaman mengenai tindakan keselamatan yang tepat.
Sebelum banjir: Pantau peringatan resmi, siapkan kebutuhan darurat, lindungi dokumen penting, dan sepakati rencana evakuasi bersama keluarga.
Saat banjir mengancam: Segera menuju tempat aman sesuai arahan petugas. Jangan menerobos arus banjir atau melewati jalan yang tergenang dengan kedalaman yang tidak diketahui. Hindari kabel listrik dan peralatan yang terendam. Jangan mengambil risiko hanya demi menyelamatkan barang atau merekam konten.
Setelah banjir: Kembali ke rumah hanya ketika kondisi dinyatakan aman. Hindari air yang mungkin terkontaminasi dan gunakan air bersih untuk minum. Jangan menyalakan peralatan listrik yang basah sebelum diperiksa oleh pihak yang kompeten.
Dalam keadaan darurat, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Informasi dari petugas berwenang perlu diutamakan dibandingkan kabar yang belum terverifikasi di media sosial.
Penutup: Gen Z Bukan Sekadar Penonton Perubahan Iklim
Kesiapsiagaan bencana merupakan keterampilan hidup yang penting bagi generasi muda, khususnya mereka yang tinggal di wilayah yang menghadapi risiko banjir dan perubahan lingkungan. Pekalongan dapat menjadi pengingat bahwa perubahan iklim, kondisi wilayah pesisir, perilaku manusia, dan ketangguhan masyarakat saling berkaitan.
Gen Z memiliki kesempatan untuk memadukan teknologi, kreativitas, kepedulian sosial, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan tersebut. Namun, upaya generasi muda perlu didukung oleh keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan tenaga profesional agar menghasilkan perubahan yang aman dan berkelanjutan.
Jangan menunggu bencana untuk belajar bersiap. Kenali risikonya, siapkan diri, sebarkan informasi yang benar, dan lakukan tindakan nyata untuk melindungi komunitas.
Generasi yang siap menghadapi perubahan iklim adalah generasi yang memahami risiko, mempersiapkan diri, dan peduli terhadap keselamatan sesama.
Daftar Pustaka
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (n.d.). Informasi cuaca dan iklim. https://www.bmkg.go.id/
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (n.d.). Badan Nasional Penanggulangan Bencana. https://www.bnpb.go.id/
- Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). Climate change 2023: Synthesis report. https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/
- United Nations Office for Disaster Risk Reduction. (n.d.). United Nations Office for Disaster Risk Reduction. https://www.undrr.org/