Brainrot dan Short Attention Span: Dampak Konsumsi Video Pendek Berlebihan terhadap Kemampuan Fokus Jurnalistik SMANSA 26 July 2026

Brainrot dan Short Attention Span: Dampak Konsumsi Video Pendek Berlebihan terhadap Kemampuan Fokus

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan hiburan. Kehadiran platform media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts memungkinkan pengguna mengakses ribuan video berdurasi singkat dalam waktu yang sangat cepat. Meskipun memberikan hiburan instan, kebiasaan mengonsumsi video pendek secara berlebihan mulai dikaitkan dengan menurunnya kemampuan fokus, munculnya fenomena brainrot, serta semakin pendeknya attention span atau rentang perhatian seseorang (AI Care, 2026).

Pengertian Brainrot

Brainrot bukan merupakan istilah medis resmi, melainkan istilah populer di dunia digital yang menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami penurunan kemampuan berkonsentrasi dan berpikir secara mendalam akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital, terutama video pendek yang bersifat hiburan ringan atau kurang bermakna (AI Care, 2026).

Video pendek dirancang untuk memberikan hiburan secara instan hanya dalam hitungan detik. Saat seseorang menontonnya, otak akan melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang menimbulkan rasa senang dan puas. Ketika proses ini terjadi berulang kali, otak menjadi terbiasa memperoleh kepuasan secara cepat sehingga muncul dorongan untuk terus menggulir (scrolling) dan menonton video berikutnya.

Selain itu, banyaknya informasi yang diterima dalam waktu singkat menyebabkan otak mengalami information overload. Otak tidak memiliki cukup waktu untuk memproses informasi secara mendalam sehingga lama-kelamaan merasa lelah dan kewalahan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit mempertahankan konsentrasi pada aktivitas yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama, seperti belajar, membaca buku, atau menyelesaikan pekerjaan (AI Care, 2026).

Short Attention Span

Fenomena yang berkaitan erat dengan brainrot adalah short attention span, yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan mempertahankan fokus terhadap suatu aktivitas dalam waktu yang lama. Kondisi ini semakin banyak ditemukan pada masyarakat modern akibat dominasi konten digital berdurasi singkat.

Menurut penelitian Gloria Mark yang dikutip oleh Speakwise (2026), rata-rata rentang perhatian manusia saat ini hanya sekitar 47 detik, menurun drastis dibandingkan tahun 2004 yang mencapai sekitar 2,5 menit. Penurunan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital turut memengaruhi kemampuan manusia dalam mempertahankan fokus.

Algoritma media sosial secara terus-menerus menyajikan video baru yang menarik perhatian pengguna. Setiap kali pengguna berpindah ke video berikutnya, otak kembali menerima rangsangan dopamin sehingga terbentuk kebiasaan mencari kepuasan instan. Akibatnya, banyak orang menjadi cepat bosan ketika harus membaca artikel panjang, menonton video edukasi berdurasi lama, mengikuti perkuliahan, atau menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi (Speakwise, 2026).

Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa setelah seseorang mengalami gangguan atau distraksi, dibutuhkan rata-rata 23 menit 15 detik untuk kembali memperoleh fokus penuh. Ironisnya, pekerja digital rata-rata mengalami gangguan setiap beberapa menit sehingga produktivitas menjadi menurun (Speakwise, 2026).

Dampak Brainrot dan Short Attention Span

Konsumsi video pendek yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

  1. Menurunnya kemampuan berkonsentrasi saat belajar maupun bekerja.
  2. Sulit membaca buku atau memahami materi yang kompleks karena terbiasa menerima informasi secara singkat.
  3. Lebih mudah terdistraksi dan cepat merasa bosan terhadap aktivitas yang membutuhkan perhatian jangka panjang.
  4. Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menggulir media sosial sehingga produktivitas menurun.
  5. Terpapar berita negatif (doomscrolling) yang dapat meningkatkan kecemasan dan memengaruhi suasana hati.
  6. Mengalami gangguan tidur akibat penggunaan ponsel secara berlebihan pada malam hari.
  7. Mengurangi interaksi sosial secara langsung karena lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial.
  8. Terbiasa menggunakan istilah atau bahasa internet secara berlebihan dalam situasi yang kurang tepat.
  9. Dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis karena individu lebih terbiasa menerima informasi secara cepat dibandingkan menganalisis informasi secara mendalam (AI Care, 2026; Speakwise, 2026).

Fenomena ini juga menjadi perhatian dalam dunia pendidikan. Peserta didik yang terbiasa mengonsumsi konten singkat cenderung mengalami kesulitan mempertahankan fokus selama proses pembelajaran di kelas. Jika tidak diimbangi dengan latihan konsentrasi, kemampuan memahami konsep yang kompleks dan berpikir analitis dapat mengalami penurunan.

Upaya Mengatasi Brainrot dan Short Attention Span

Meskipun fenomena ini semakin umum terjadi, kemampuan fokus tetap dapat dilatih kembali melalui beberapa langkah berikut.

  1. Membatasi konsumsi video pendek.
    Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari dengan memanfaatkan fitur screen time atau pengingat penggunaan aplikasi.
  2. Melakukan digital detox.
    Luangkan waktu tanpa menggunakan perangkat digital, misalnya satu hari dalam seminggu atau beberapa jam setiap hari, agar otak memperoleh kesempatan untuk beristirahat dari stimulasi yang berlebihan.
  3. Melatih fokus melalui teknik Pomodoro.
    Teknik ini dilakukan dengan bekerja atau belajar selama 25 menit secara penuh, kemudian beristirahat selama 5 menit tanpa membuka media sosial atau menggunakan gawai.
  4. Mengembangkan kebiasaan membaca dan belajar mendalam.
    Membaca buku, artikel ilmiah, atau menonton video edukasi berdurasi panjang membantu melatih kembali kemampuan berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lebih lama.
  5. Melakukan aktivitas non-digital.
    Berolahraga, menggambar, bermain musik, berkebun, atau melakukan aktivitas kreatif lainnya dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap hiburan instan dari media sosial.
  6. Menggunakan media sosial secara bijak.
    Pilih konten yang bersifat edukatif, inspiratif, dan memberikan nilai tambah dibandingkan sekadar hiburan kosong atau informasi negatif yang memicu kecemasan.

Penutup

Fenomena brainrot dan short attention span menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya membawa kemudahan dalam memperoleh informasi, tetapi juga memengaruhi cara kerja otak manusia. Konsumsi video pendek secara berlebihan dapat membuat seseorang semakin sulit mempertahankan fokus, mudah terdistraksi, serta menurunkan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, penggunaan media sosial perlu dilakukan secara bijaksana dan seimbang dengan aktivitas yang mampu melatih konsentrasi, membaca secara mendalam, serta meningkatkan interaksi sosial di dunia nyata. Dengan demikian, teknologi tetap dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun kemampuan kognitif.

Daftar Pustaka

 

Write a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to Top