Ada orang yang berjuang untuk mengubah kehidupannya sendiri.Namun, ada pula orang yang setelah berhasil mengubah kehidupannya, memilih untuk membantu orang lain mendapatkan kesempatan yang sama.Salah satunya adalah Dr. Imam Santoso, S.T., M.Phil., dosen Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus alumni penerima beasiswa LPDP. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan, bahkan ketika seseorang memulai dari kondisi yang sangat sederhana.
Berawal dari Keluarga Sederhana
Imam berasal dari keluarga petani di Ambulu, Jember, Jawa Timur. Sejak kecil, kehidupannya tidak mudah. Ia kehilangan ibunya ketika masih sangat kecil dan kemudian dibesarkan oleh neneknya yang bekerja sebagai buruh tani. Rumah masa kecilnya sangat sederhana. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, keluarganya selalu menanamkan dua hal penting: bersyukur dan tetap bersekolah setinggi mungkin. Nasihat tersebut menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidup Imam. Ia belajar bahwa keadaan seseorang pada hari ini tidak harus menentukan kehidupan seseorang di masa depan.
Pernah Gagal Mengejar Cita-Cita
Menariknya, Imam pada awalnya tidak bercita-cita menjadi ahli metalurgi. Ia ingin menjadi dokter. Keinginan tersebut muncul karena pengalaman hidupnya. Ia pernah melihat anggota keluarganya mengalami sakit tanpa mendapatkan penanganan medis yang memadai. Karena itu, menjadi dokter merupakan cita-cita yang sangat ia inginkan. Namun, setelah lulus SMA, Imam tidak berhasil masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Kegagalan tersebut membuatnya sempat mengalami masa sulit. Ia bahkan pergi ke rumah pamannya di Trenggalek untuk menghindari tekanan sosial setelah gagal masuk kedokteran.Tetapi kegagalan itu ternyata bukan akhir perjalanan. Imam kemudian mencoba mencari jalan lain. Ia pernah bekerja menjual kaca dan paku untuk mengumpulkan uang yang akan digunakan untuk mengikuti seleksi perguruan tinggi berikutnya.
Sebuah Pertemuan Mengubah Arah Hidup
Suatu ketika, Imam Santoso melihat kehidupan seorang tetangganya yang bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan pertambangan. Dari sana muncul sebuah pemikiran sederhana. Jika seorang satpam di perusahaan pertambangan dapat memiliki kehidupan yang cukup baik, bagaimana dengan orang-orang yang bekerja sebagai tenaga profesional di bidang tersebut? Pemikiran itu membuat Imam mulai tertarik dengan dunia pertambangan. Ia kemudian memilih Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai kampus yang ingin dituju dan akhirnya berhasil diterima di Teknik Metalurgi ITB. Di sinilah sebuah kegagalan yang awalnya terasa menyakitkan justru membuka jalan menuju bidang yang kemudian menjadi passion dan profesinya.
Imam tidak berhenti setelah mendapatkan gelar sarjana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke University of Queensland, Australia, dan menyelesaikan pendidikan magisternya di bidang yang berkaitan dengan metalurgi. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan doktoral di Aalto University, Finlandia, melalui beasiswa LPDP. Profil resmi ITB mencatat bahwa Imam menyelesaikan S1 di ITB pada 2007, S2 di University of Queensland pada 2014, dan S3 di Aalto University pada 2019. Saat ini, ia merupakan dosen pada Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan tidak selalu datang sekaligus. Satu kesempatan dapat membawa seseorang menuju kesempatan berikutnya.
Dalam perjalanan pendidikannya, Imam juga mendapatkan berbagai beasiswa. Ia pernah memperoleh Australian Development Scholarship, yang sekarang dikenal sebagai Australia Awards, untuk melanjutkan pendidikan di University of Queensland. Kemudian, ia mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Aalto University, Finlandia. Karena pengalaman tersebut, Imam sering menekankan pentingnya aktif mencari informasi mengenai beasiswa. Menurutnya, kesempatan pendidikan sebenarnya tersedia, tetapi seseorang perlu aktif mencari informasi dan mempersiapkan diri agar dapat memanfaatkan kesempatan tersebut.
Imam juga mendorong mahasiswa untuk menuliskan dan memvisualisasikan cita-cita mereka. Ia pernah menyarankan mahasiswa untuk menempelkan gambar atau daftar target di dinding kamar. Hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menuliskan mimpi dapat membantu seseorang mengubah keinginan menjadi tujuan yang lebih nyata. Mimpi tidak cukup hanya dibayangkan, tetapi perlu dituliskan, direncanakan, dan diperjuangkan melalui tindakan nyata.
Hal yang paling menarik dari perjalanan Imam adalah keinginannya untuk tidak sukses sendirian. Setelah merasakan sendiri bagaimana pendidikan dapat mengubah kehidupannya, ia mulai aktif mendatangi sekolah-sekolah, termasuk sekolah di daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi mengenai pendidikan tinggi. Sejak masih menjadi mahasiswa S1, ia telah melakukan kegiatan “jemput bola” ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan informasi tentang kesempatan kuliah dan beasiswa, termasuk Bidikmisi. Setelah menjadi dosen ITB, kegiatan tersebut semakin berkembang melalui berbagai kegiatan dan roadshow ke daerah-daerah untuk memberikan informasi serta motivasi kepada siswa SMA agar berani bermimpi melanjutkan pendidikan tinggi.
Kepedulian Imam juga terlihat dari caranya berinteraksi dengan mahasiswa. Rumahnya di Bandung sering menjadi tempat mahasiswa datang untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, melakukan bimbingan, atau sekadar beristirahat dan makan. Bagi Imam, membantu mahasiswa tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Memberikan informasi, menyediakan tempat untuk belajar, mendengarkan cerita, atau membantu seseorang melewati masa sulit juga merupakan bentuk kontribusi yang berarti.
Perjalanan Imam merupakan gambaran bahwa pendidikan dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Ia berasal dari keluarga petani di Jember dan pernah gagal mencapai cita-citanya untuk menjadi dokter. Ia juga pernah mengalami masa sulit dan harus berusaha mengumpulkan uang untuk melanjutkan pendidikan. Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Ia kemudian menjadi mahasiswa ITB, melanjutkan pendidikan ke Australia dan Finlandia, hingga akhirnya menjadi dosen Teknik Metalurgi ITB. Yang lebih penting, setelah mencapai keberhasilan tersebut, ia memilih menggunakan pengalaman dan pengetahuannya untuk membantu siswa dan mahasiswa lain mendapatkan kesempatan pendidikan.
Kisah Imam Santoso mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Tidak diterima di jurusan yang diinginkan bukan berarti semua cita-cita harus berhenti. Kita dapat mencari jalan lain, terus belajar, mencari informasi, dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Perjalanan Imam juga menunjukkan bahwa pendidikan dapat membuka pilihan kehidupan yang lebih luas. Namun, keberhasilan akan menjadi lebih bermakna ketika tidak hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk membantu orang lain.
Tidak semua orang memulai perjalanan dari tempat yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga berada dan memiliki banyak fasilitas, sementara ada pula yang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan. Namun, siapa pun dapat terus belajar dan mencari peluang. Ketika suatu hari kita berhasil mencapai apa yang kita impikan, jangan lupa melihat ke belakang. Mungkin masih ada orang lain yang sedang berada di titik tempat kita dulu pernah berdiri dan hanya membutuhkan sedikit informasi, dorongan, atau seseorang yang mengatakan bahwa mereka juga bisa.
Seperti yang dilakukan Imam Santoso, kesuksesan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan. Kesuksesan dapat menjadi awal untuk membuka jalan bagi orang lain. Bermimpilah, belajarlah, carilah kesempatan, dan ketika berhasil, jangan lupa membantu orang lain untuk ikut maju. Karena pendidikan yang paling bermakna bukan hanya pendidikan yang mengubah hidup kita, tetapi juga pendidikan yang membuat kita mampu mengubah kehidupan orang lain.
Referensi
- Amar, M. I. (2026, February 26). Kisah Imam Santoso, alumni LPDP Aalto University yang kini “blusukan” bantu anak kurang mampu berkuliah. Kompas.com. https://amp.kompas.com/tren/read/2026/02/26/183000665/kisah-imam-santoso-alumni-lpdp-aalto-university-yang-kini-blusukan-bantu
- Institut Teknologi Bandung. (n.d.). Imam Santoso. https://itb.ac.id/staf/profil/imam-santoso
- Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2024). Imam Santoso, manusia beasiswa lulusan LPDP dan dosen Metalurgi yang tak mau sukses sendiri. Media Keuangan. https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/imam-santoso-manusia-beasiswa-lulusan-lpdp-dan-dosen-metalurgi-yang-tak-mau-sukses-sendiri
- Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. (2024, September 11). Imam Santoso, gemar jangkau anak pinggiran agar ubah nasib lewat pendidikan tinggi. https://lpdp.kemenkeu.go.id/informasi/berita/imam-santoso-gemar-jangkau-anak-pinggiran-agar-ubah-nasib-lewat-pendidikan-tinggi/
- image source https://lpdp.kemenkeu.go.id/en/informasi/berita/imam-santoso-gemar-jangkau-anak-pinggiran-agar-ubah-nasib-lewat-pendidikan-tinggi?cat=/awardee/kontribusi